Another Storm
Hujan masih terus turun, kadang rintik hingga tak terasa hujan, terkadang juga turun cukup lebat. Orang-orang di pengungsian tidak bisa mengeluh lebih dari apapun lagi, mereka setidaknya masih bisa bernaung di salah satu rumah ibadah yang tidak turut hancur akibat badai.
Melihat keadaan tempat penampungan yang sudah melebihi daya tampungnya, Zola memilih berdiri dan berjalan ke luar dari penampungan. Nora yang melihatnya menyikut lengan Namdi dan mengajaknya untuk mengikuti gadis muda itu.
“Kau mau ke mana?” tanya Namdi dengan suara yang lirih.
Langkah Zola berhenti. Dia membalikkan badan dan menatap dua orang wanita berbeda usia. Pakaian yang dikenakan dua wanita itu sama lusushnya dengan apa yang dia kenakan. “Di sini sudah cukup ramai.”
“Apakah kau yakin itu alasanmu?”
Zola menunduk mendengar pertanyaan itu. Dia tahu tidak bisa membohongi wanita paruh baya di hadapannya. Satu-satunya alasan dia beranjak dari tempat penampungan yang aman hanyalah satu.
“Kau tidak bisa mencari keluargamu sendirian. Terutama di tengah hujan begini. Kami ikut.”
Satu suara yang sudah dikenal oleh Zola membuatnya mendongak. Kini dia melihat Alex dan Maldra mengapit Nora dan Namdi. Perempuan itu tidak bisa menahan tangis. Air matanya mengalir bersama dengan tetes-tetes hujan.
“Lagipula di sini sudah terlalu banyak korban yang bernaung. Kita perlu tempat baru.” Nora mengedipkan sebelah matanya. Itu pertama kalinya Zola merasakan senyuman di suara Nora.
***
Hujan seperti mengejek keputusan Zola, bukannya semakin reda, intensitas air malah semakin kuat. Tetes air semakin besar dan lebih cepat turun ke tanah. Belum lagi petir yang berulang kali menggelegar. Langit terlihat semakin gelap dan awan-awan terlihat menjadi lebih tebal.
Maldra yang akhirnya menemukan satu tempat. Mereka berlindung di dalam rumah tua yang beratapkan seng, berusaha mencari perlindungan dari hujan yang semakin deras.
“Sementara kita di sini dulu,” putus Maldra yang diangguki semuanya. Tidak ada satupun dari kelima orang ini yang tidak menggigil.
“Kau yakin ini arah tujuanmu?” tanya Namdi pada Zola.
Tidak langsung menjawab Zola hanya memandang ke arah penampungan yang sudah cukup jauh. Perempuan itu mengatupkan kedua tangannya dan berujar, “Aku sudah bertanya pada seluruh orang di penampungan. Mereka kebanyakan dari area sekitar Wale St.”
“Jadi, itu yang membuatmu melangkah ke arah bukit?”
Zola tidak menyangkal tuduhan Alex. Setidaknya dia bersyukur dia tidak sendirian dalam pencarian gilanya, apalagi di tengah hujan yang mengguyur kota yang bahkan sudah tak berbentuk.
Nora tiba-tiba bergerak pelan. Dia meletakkan telunjuk kanannya di depan bibir sementara dia tampak berusaha untuk menajamkan pendengarannya sambil memejamkan mata. Keempat orang lainnya turut mengikuti apa yang dilakukan perempuan itu. Mereka sama-sama terkesiap ketika mendengar suara rintihan.
Zola yang pertama kali bergerak. Tempat mereka bernaung tidaklah besar, sehingga dia tidak kesulitan mencari asal suara.
Terhalang beberapa dinding yang sudah runtuh, mereka menemukan seorang wanita hamil yang berbaring di atas dipan sedang berjuang melawan rasa sakit. Wanita itu sedang menunggu kelahiran anaknya. Tidak ada seorangpun yang menemaninya.
Nora menahan napas dan berdiri di ambang pintu, sementara Namdi gegas menghampiri perempuan yang merintih sambil memegangi perutnya itu.
“Allahu Akbar, my dogter, is jy alleen[1]? tanya Namdi penuh kekhawatiran.
Perempuan itu tak menjawab. Wajahnya basah, entah karena tetes hujan dari atap yang bocor, air mata menahan kesakitan, atau keringat karena berulang kali merintih. Bisa jadi basah karena semuanya menjadi satu.
“Sudah berapa lama kau sendirian?” Zola tidak menutup kekhawatirannya melihat apa yang ada di atas dipan. Wanita itu berbaring di atas alas yang kotor.
Pertanyan Zola pun tak mendapat jawaban karena tangan perempuan itu kembali mengepal. Wajahnya mengerut karena rasa sakit.
“Sepertinya kontraksinya sudah sempurna.”
Semua orang menatap Nora yang terus memeriksa jam tangannya. Perempuan itu diam tak bergerak, masih di ambang pintu. Dia sama sekali tidak menghampiri seperti Zola dan Nora.
“Apa maksudmu?” tanya Alex. Dia berdiri di belakang Nora.
“Durasi kontraksinya sekitar 60 menit. Interval antar kontraksinya sudah per satu menit. Aku harus ….” Kalimat Nora menggantung ketika dia mendongak tak lagi menatap arlojinya.
Namdi yang awalnya duduk di sisi perempuan hamil itu yang pertama bergerak. Dia bangkit dan langsung menarik Nora mendekat ke dipan. “Lakukan yang harus kau lakukan. Kami akan membantumu.”
Nora meletakkan tas ransel yang tak pernah dia lepaskan sejak badai yang pertama. Zola segera mengambil ransel itu karena lantai sudah basah.
“Hai, jangan khawatir. Kami akan membantumu melalui proses ini. Aku dokter dan teman-temanku di sini akan membantuku.”
Perempuan itu menggenggam tangan Nora. “Terima kasih, Nona. Aku sangat takut.”
Zola mengambil napas dalam-dalam dan bertanya, “Apa yang harus kami lakukan untuk membantumu?”
“Tapi bagaimana dengan hujan ini? Kurasa sebentar lagi akan ada banjir. Bagaimana kita bisa melindungi dia dan bayinya?” Alex tidak bisa menutupi kekalutannya.
“Kau bisa membantunya melahirkan, Nora?” tanya Zola yang hanya dijawab dengan anggukan. “Kalau begitu, kita harus mencoba menahan air dengan apa pun yang kita bisa temukan di sekitar sini. Mari kita cari papan, batu, atau apa pun yang bisa digunakan sebagai penghalang.”
Maldra yang mengamati air yang semakin naik berseru, “Cepat, kita harus bertindak sekarang. Setiap detik sangat berharga!”
Sementara itu, Nora menggunakan pengetahuannya sebagai dokter untuk memastikan kelahiran berjalan dengan baik. Dia memandu perempuan itu, memberikan dukungan fisik dan emosional yang diperlukan. Namdi dan Zola berdiri di sebelahnya.
“Bantu aku, mengeluarkan beberapa barang dari dalam tasku,” pinta Nora. Zola segera bergerak. Namdi berdiri di sisi dipan yang lainnya. Dia menggenggam tangan perempuan itu, mencoba memberikan kekuatan.
“Tarik napas dalam-dalam. Hembuskan perlahan. Kita akan melakukannya bersama-sama. Sekarang, cobalah berbaring lurus. Jangan miring. Setelah itu tekuk lututmu.”
Perempuan itu hanya mengangguk. Wajahnya sudah menyiratkan kepayahan. Dia mengikuti instruksi dari Nora.
Nora mengambil napas dan memejamkan mata. Kedua tangannya sudah terbungkus sarung tangan karet. Setelah membuka mata, dia mulai melakukan pemeriksaan dengan memastikan dilatasi persalinan sudah sempurna.
Maldra dan Alex bekerja keras untuk menahan air yang merembes masuk ke dalam rumah tua itu. Mereka menggunakan papan, batu, dan apa pun yang bisa mereka temukan untuk menciptakan penghalang sementara.
“Kita harus memasang penghalang ini di sini. Semoga bisa menahan air untuk sementara waktu.” Maldra meletakkan sebuah papan besar yang sepertinya pecahan dari lemari yang sudah rusak.
Alex tiba di sisi Maldra sambil mengangkat batu besar. “Ayo, kita harus bekerja cepat. Setiap detik berharga.”
Maldra berdiri dan mengamati genangan air yang semakin tinggi. Di beberapa celah dari penghalang yang dibangun olehnya dan Alex, air terus mengalir.
Sementara itu, Zola dan Namdi tetap mendampingi Nora yang mulai terus memberikan instruksi pada perempuan yang sedang berjuang untuk melahirkan. Namdi melafazkan kalimat-kalimat suci dari bibirnya, mencoba untuk menenangkan perempuan itu.
“Tarik napas, Nak. Kamu sedang melakukan pekerjaan yang luar biasa. Bayimu akan segera lahir.”
“Terima kasih, semuanya., tetapi aku sudah tidak kuat lagi.”
“Banjir semakin mendekat. Kita harus segera mencari tempat yang lebih tinggi,” teriak Maldra yang semakin membuat Nora tertekan. Konsentrasi perempuan itu hanyalah agar bayi dan ibu bisa selamat.
Alex mengamati jendela yang pecah karena tekanan air. “Ayo, kita tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi. Kita harus mencari jalur evakuasi.”
Zola mengambil tangan perempuan itu. “Kami akan melindungimu. Kami akan membawamu ke tempat yang lebih aman, tetapi sekarang kami harus memastikan anakmu bisa melihat dunia dengan selamat.”
Perempuan itu meraih tangan Zola dan menggenggamnya dengan erat. Dia menarik badan Zola untuk mendekat ke arahnya. “Kalau aku tidak selamat, lindungi bayiku.”
Zola terdiam mendengar kalimat yang serupa bisikan itu. Dia bergeming karena terkejut, tidak bisa menjawab atau bereaksi.
“Kita bisa melakukannya! Kita telah melewati begitu banyak rintangan, dan kita tidak akan menyerah sekarang,” kata Namdi.
Akhirnya, dengan kekuatan dan kerjasama mereka, terdengar suara tangisan bayi yang menyambut dunia. Perempuan itu telah berhasil melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Zola dan teman-temannya merasa lega dan bahagia.
Nora tersenyum lebar. Dia membungkus bayi itu dengan salah satu selimut yang ada di dalam tas ranselnya. “Selamat! Kamu telah melahirkan seorang anak yang sehat dan kuat.”
Tidak ada jawaban sama sekali. Nora yang masih memandangi bayi di gendongannya mengalihkan pandangan. Dia segera meminta Namdi untuk menggendong si bayi.
“Hei, buka matamu. Jangan tertidur.” Nora menggoyangkan pipi perempuan itu., tetapi tidak ada respon apa pun.
Nora segera meraih pergelangan tangan perempuan yang baru saja berubah status menjadi ibu. Dia tidak dapat menemukan denyut. Tangannya bergerak cepat ke arah leher, sekali lagi mencoba menemukan denyut.
“Hei, buka matamu!” Dengan panik, Nora menyalakan senter yang ada di pulpennya. Dia membuka kelopak mata perempuan yang masih berbaring di dipan, berharap ada respon pupil. Namun, sekali lagi tidak ada gerakan.
“Nora,” panggil Zola lirih.
Banjir semakin parah, dan mereka harus segera meninggalkan rumah itu sebelum terlambat. Mereka tidak memiliki waktu lagi, baik itu bersuka cita atas kelahiran sang bayi atau pun berduka karena kehilangan sang ibu.
“Kita harus segera pergi. Kita tidak bisa bertahan di sini lebih lama. Dan sebaiknya kita kembali ke penampungan.”
Other Stories
Lombok; Tanah Surga
Perjalanan ini bukan hanya perjalanan yang tidak pernah diduga akan terjadi. Tetapi menjad ...
Lombok, Tempat Aku Belajar Melepaskan
Rara menghabiskan liburan sekolahnya di Lombok bersama kakak pertamanya yang telah menikah ...
Jejak Seni Budaya Di Tanah Baduy
Dua mahasiswa antropologi dengan pandangan yang bertolak belakang harus mengesampingkan eg ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-anakku
Cerita ini mengisahkan perjalanan cinta dan perjuangan Maya, seorang desainer muda, dan Ra ...